AL's Review : John Wick Chapter Four (2023)
Film ini adalah salah satu—jika bukan yang terbaik—film aksi abad ini. John Wick: Chapter 4 memberikan pengalaman sinematik luar biasa yang masuk dalam tiga besar terbaik yang pernah aku rasakan di bioskop! Film ini seperti suntikan adrenalin, dan tanpa ragu adalah installment terbaik dari waralaba John Wick. Sebagai puncak dari semua elemen yang membuat seri ini hebat, film ini menghadirkan lebih banyak hal yang disukai para penggemar: adegan aksi yang memukau, visual yang menakjubkan, dan lore yang memikat.
Skala cerita kali ini sangat besar. Worldbuilding-nya terus berkembang seiring dengan makin banyaknya sekuel, dan semuanya dikerjakan dengan sangat baik. Dunia dalam film ini terasa begitu bergaya, seakan seperti berada di sebuah opera megah, sekaligus memperdalam mitologi yang menjadi ciri khas waralaba ini. Salah satu hal favoritku adalah lore mendalam dari zaman kuno hingga modern yang dihadirkan, menjadikannya salah satu film aksi paling inovatif yang pernah ada.
Film ini juga memperkenalkan karakter-karakter baru yang luar biasa seperti Akira, Mr. Nobody, dan Caine. Mereka adalah tambahan yang segar dan menarik bagi waralaba ini. Aku benar-benar berharap ada spin-off atau serial khusus untuk mereka. Debut akting Rina Sawayama juga sangat luar biasa—sebuah debut yang tak terlupakan! Performanya, bersama dengan pemain lainnya seperti Keanu Reeves, sangat memukau dan penuh energi.
Secara visual, John Wick: Chapter 4 adalah mahakarya. Setiap frame-nya memanjakan mata, membuatku tak bisa lepas dari layar. Desain set yang megah, penggunaan warna dan pencahayaan yang memikat, menciptakan atmosfer yang mengingatkanku pada Blade Runner dan Cyberpunk 2077. Sinematografinya sangat layak mendapat pengakuan penghargaan. Begitu pula tata suara yang sempurna, apalagi dengan teknologi Dolby Atmos, dan musik skor yang berpadu dengan indahnya. Semua aspek teknisnya dirancang dengan sangat detail dan penuh perhatian, menghadirkan pengalaman sinematik yang tajam dan sempurna.
Adegan pertarungan dalam film ini benar-benar epik dan memesona. Mulai dari adegan di Osaka yang sangat bergaya, hingga aksi penuh adrenalin di babak terakhir: perkelahian di sekitar mobil di Paris, aksi mendaki tangga yang mendebarkan, dan urutan dragons breath dari atas. Seluruh film ini terasa seperti adaptasi anime yang sempurna. Koreografi setiap adegan pertarungan begitu mengagumkan, dan aksi yang ditampilkan semakin tak terkendali dibandingkan film-film sebelumnya. Sudah saatnya Akademi Film mengakui kerja keras para pemeran pengganti/stunt karena mereka sangat layak untuk diapresiasi lebih di industri film.
Keberhasilan film ini juga tidak lepas dari kebebasan kreatif yang dimiliki oleh sutradara Chad Stahelski. Film ini sangat baik secara penulisan maupun penyutradaraan, dengan ritme yang sempurna. Sebuah penghormatan besar untuk genre aksi dan seni bela diri. Chad berhasil menunjukkan bagaimana genre aksi layak dianggap sebagai seni. Dengan anggaran lebih besar dari film-film sebelumnya, mereka tetap menggunakan kreativitas maksimal, seperti membangun klub dengan dinding air terjun yang megah daripada efek visual murahan. Dan luar biasanya, semua ini dilakukan dengan setengah anggaran dari Ant-Man: Quantumania!
Transformasi John Wick dari film indie beranggaran rendah menjadi blockbuster aksi sungguh menginspirasi. Aku sangat antusias untuk masa depan waralaba ini, termasuk seri prekuel The Continental dan spin-off Ballerina. Tidak sabar juga menantikan adaptasi Ghost of Tsushima yang disutradarai oleh Chad Stahelski. John Wick: Chapter 4 benar-benar sebuah karya seni yang agung!
Comments
Post a Comment