AL's Review : Babylon (2022)

 



Menonton Babylon terasa seperti pengalaman di luar tubuh—salah satu pengalaman sinematik terbaik yang pernah aku alami dalam dekade ini. Film ini dimulai dengan sangat memikat. Menontonnya adalah perjalanan yang begitu menggairahkan dan sangat menghibur. Babylon hadir dengan kekacauan yang teratur, berantakan tetapi indah, dan sinematografi yang begitu imersif, menjadikannya pengalaman yang luar biasa di layar lebar. Film ini adalah penghormatan penuh cinta pada proses penciptaan sinema sekaligus sebuah "fuck you" besar untuk industri Hollywood. Melihatnya terasa sangat menyentuh, dengan pesan-pesan yang disampaikan secara brutal, jujur, dan menggetarkan. Ini adalah mahakarya sinema modern.

Damien Chazelle benar-benar salah satu pembuat film paling menarik saat ini. Film ini sangat terarah dengan baik dan ditulis dengan cermat. Ia mencurahkan begitu banyak cinta dan usaha dalam setiap karyanya, dan itu selalu terlihat. Skripnya begitu ambisius, dan aku sama sekali tidak merasa terganggu oleh durasi film. Rasanya waktu berjalan cepat karena setiap adegan yang ditampilkan begitu memikat, membuatku terus terpaku pada layar. Semuanya terasa begitu menarik, sampai-sampai aku tidak ingin film ini berakhir.

Aspek teknis dalam film ini adalah definisi kesempurnaan. Long take yang dikoreografi dengan cermat sangat memukau; aku kagum pada betapa rapinya mereka menggarapnya. Penyuntingan filmnya juga luar biasa—cepat tetapi tetap mudah diikuti, membuat durasi film terasa lebih pendek dari sebenarnya. Desain produksinya megah, dan tata suara serta skor musiknya luar biasa. Justin Hurwitz menghadirkan salah satu karya terbaik dalam kariernya. Sinematografinya menakjubkan, setiap frame terasa seperti sebuah karya seni. Aku tak bisa mengalihkan pandangan dari layar (selain karena Diego Calva dan Margot Robbie, tentu saja). Semua elemen ini bersatu dengan sempurna, menciptakan sebuah film yang sangat berkelas.

Dari segi cerita, Babylon menghadirkan alur yang tak bercela dari awal hingga akhir. Film ini melintasi berbagai genre, bahkan memiliki sentuhan horor di dalamnya. Diego Calva dan Margot Robbie memberikan performa yang luar biasa, benar-benar menghidupkan karakter mereka. Li Jun Li adalah pencuri perhatian, dan aku sangat menyukai kehadirannya di layar. Yang mengejutkan, film ini juga sangat lucu. Aku tertawa terbahak-bahak, bahkan mungkin yang paling keras di antara penonton lainnya.

Mendengar musik Justin Hurwitz di bioskop lagi adalah kebahagiaan tersendiri, mengingat terakhir kali aku menikmati skor karyanya di bioskop adalah di La La Land. Ending film ini membuatku sangat emosional, karena betapa berharganya film bagi diriku serta mimpi untuk bisa berkarya di balik layar. Aku menangis dua kali! Menonton Babylon adalah pengalaman yang tak terlupakan—sebuah karya yang begitu megah dan menggugah hati.

Comments